Jelang Natal dan Tahun Baru, Kapolri Tegaskan Belum Ada Ancaman

Kapolri Jenderal Polisi H. Muhammad Tito Karnavian, Ph.D. (Victoria Police and Leadership in Counter Terrorism Alumni Assocition 2018.) Melbourne, Australia

tajukonline.com – (19/12/2018) Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian menegaskan, hingga saat ini pihaknya belum menerima ada laporan ancaman teroris jelang perayaan Natal 2018 dan Tahun Baru 2019.

Namun, Tito menuturkan, pihaknya tetap akan selalu mewaspadai potensi ancaman teroris tersebut. “Tidak ada rencana serangan teror natal dan tahun baru. Belum ada. Tapi kami akan terus monitor terus,” kata Tito di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu, 19 Desember 2018.

Bacaan Lainnya

Mantan Kapolda Metro Jaya ini menyebutkan, ancaman terorisme menjadi perhatian dalam pengamanan Natal dan Tahun Baru. Ia pun mengingatkan serangan aksi teror sempat terjadi saat perayaan Natal 2000 lalu. “Juga tahun 2018, 13 Mei lalu ada serangan terhadap gereja di Surabaya,” katanya.

Dalam upaya pencegahan, Tito menuturkan, pihaknya sudah menangkap 370 orang lebih yang terlibat, baik langsung maupun tidak langsung terhadap kelompok teroris.

Dalam kurun waktu satu bulan ini, sebanyak 21 orang sudah ditangkap dan diproses secara hukum. “Tidak berkaitan langsung dengan ancaman natal dan tahun baru tapi kami melakukan langkah-langkah yang kami anggap potensial untuk menjamin agar masyarakat yakin bahwa serangan teror tidak ada,” ujarnya.

Dia menambahkan, “Sambil kami terus lakukan semua tim bergerak¬†silent monitoring, deteksi, apakah ada kemungkinan ancaman.”

Sejumlah 21 terduga teroris ini ditangkap dari berbagai wilayah, sejak November hingga Desember tahun ini. Sebanyak enam terduga teroris ditangkap di Sumatera Utara.

Kemudian di Sulawesi Tengah ada empat terduga teroris ditangkap, Jawa Barat ada tiga terduga teroris ditangkap, Sulawesi Selatan ada tiga orang ditangkap, Yogyakarta sebanyak dua orang dan Jambi satu orang ditangkap.

“Ada juga kembali dari Suriah kita sebut¬†returning. Tidak hanya mereka teroris tapi kadang yang pulang mereka dibohongi di sana enak, ternyata tidak enak. Itu ada dua. Jadi total 21 orang. Kami monitoring terus menerus,” katanya.(zra)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *