Dua Pemuda Ini Jadi Biang Antri Panjang di SPBU

PALEMBANG || TAJUKONLINE – Ternyata dua pemuda ini menjadi salah satu penyebab hingga kini masih kerap ditemukan antrian panjang pengisian BBM jenis solar subsidi di sebagian SPBU Kota Palembang.

Itu diketahui, setelah keduanya tertangkap tangan oleh personel Direktorat Intelkam Polda Sumsel yang mencurigai dua kendaraan berjenis truk box melakukan pengisian BBM jenis solar dengan waktu yang tidak normal termasuk cukup lama, Kamis (14/12/2023).

Kedua pemuda yang diketahui berinisial SA (25) dan J (24), keduanya warga Palembang, mereka tertangkap saat berada di SPBU yang ada di Jalan Soekarno Hatta, Kelurahan Talang Kelapa, Kecamatan Alang-alang Lebar.

Setelah digeledah, ternyata dua truk jenis box itu telah dimodifikasi di mana di setiap boxnya terisi dua buah babytank berukuran 1 ton.

“Modusnya mereka akan melakukan pengisian seperti kendaraan lainnya, di mana tanki mobil itu sudah dimodifikasi dengan mesin pompa yang akan menyalurkan ke babytank yang ada di dalam box,” ucap Plh Direktur Ditreskrimsus Polda Sumsel AKBP Putu Yudha Prawira, SIK, Senin (18/12/2023).

Disebut, ada tiga SPBU yang kerap menjadi tempat mereka melakukan pengantrian BBM Subsidi, di mana dua SPBU lainnya yakni SPBU Polygon dan SPBU Sukosari.

“Mereka ini bisa disebut juga jadi penyebab di SPBU khusus pengisian BBM jenis solar subsidi ngantri panjang,” ucap Putu.

Agar tak dicurigai, kedua pemuda ini juga telah menyiapkannya 10 akun my Pertamina, dan sejumlah plat.

Bahkan kepada petugas SPBU juga mereka menyiapkan uang tip, di mana per liternya dihitung kelebihan Rp500.

“Dia tidak langsung mengisi full, tapi mengantri berulangkali minimal untuk mengisi penuh dua babytank itu butuh waktu seminggu,” ucapnya.

Yang mengejutkan, aksi kedua pemuda ini sudah berlangsung lama dan mereka juga hanya diperintah dengan upah per ton dihargai Rp300.000.

Dari hasil interogasi terhadap keduanya, BBM subsidi yang dibelinya itu rupanya langsung ditampung ke truk tangki putih biru yang notabene merupakan truk angkutan BBM industry.

“Mereka mengantarkan ke rumah bos mereka berinisial A, di sana langsung dipindahkan ke truk tangki biru, yang sejauh ini kita curigai akan menjadi oplosan ke asal Muba atau dijual kembali ke industri,” ucap dia.

Atas perbuatan penyalahgunaan BBM subsidi ini kedua pemuda asal Palembang ini disangkakan melanggar pasal 55 UU RI nomor 22 tahun 2001 yang diubah ke Pasal 40 angka 9 UU RI No 6 Tahun 2023 tentang perubahan peraturan pemerintah pengganti UU nomor 2 tahun 2022 tentang Cipta Kerja.

“Dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara atau denda Rp80 miliar,” ucapnya.

Sementara, pengakuan dari SA salah satu tersangka penyalahgunaan BBM itu sudah beraksi lebih dari tiga bulan terakhir.

“Saya hanya diupah per ton, Rp300 ribu untuk satu ton,” ucap dia .

SA mengaku tak tahu apa yang dilakukannya itu merupakan pelanggaran pidana. Dia nekat melakukan ini dengan alasan himpitan ekonomi.

“Hampir di tiap SPBU di Palembang sudah pernah saya ngantri,” ucap dia.

REd

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *